Pengembangan Wilayah.
Semasa kecil di kampung, aku sering berangan-angan, kapan kampungku “kampung kalumpang” (Salili, Beong dan Dompas) menjadi kota. Aku ingat bagaimana senangnya ketika 2 atau lebih mobil willis peninggalan perang dunia II yang jadi sarana angkutan bisa masuk kekampung saat itu, sontak aku kegirangan sambil teriak woooow kampungku jadi metropolitan. Tetapi ketika mobil-mobil itu pergi hatiku menjadi sedih sambil bertanya kenapa mobil-mobil ini jarang masuk, untung-untungan seminggu sekali tidak seperti ditempat lain di tepi jalan raya setiap saat bisa malihat kendaraan lalulalang.
Pada tahun 1976 gedung sekolahku SDYPK Salili mendapat bantuan rehabilitasi, senilai 6 jutaan. dan yang melaksanakan adalah Tommybos (pa’ Tommy Mohede) dengan CV Binajatra-nya. Saat memulai pelaksanaan, truck angkutan batu tidak bisa masuk ke Salili saking jeleknya jalan masuk, saat itu jalan hanya jalan tanah, tidak ada perkerasan batu atau sirtu, sehingga pa’ Tommy sebagai kontraktor menyatakan tidak sanggup untuk melaksanakan pekerjaan karena alasan sulitnya mobiltas bahan. Dan saat itu Almarhum bapakku masih menjabat opolao, meminta kepada pihak kontraktor untuk bersabar dan memberikan waktu bagi masyarakat kampung salili untuk membenahi jalan masuk sepanjang 1 km. Dan berkat masyarakat yang pintar, penurut dan kompak serta ulet, seluruh warga Salili mulai anak-anak hingga kakek-nenek ikut kerja bakti selama 1 minggu mulai pagi-pagi hingga malam dengan dibantu 2 unit truck. Saat itu ratusan orang dikerahkan dan dibagi dalam kelompok-kelompok dimana 2 kelompok laki-laki di sumber batu (batu ngambil dari utasoa di belakang rumahnya almarhum oma bondang atau mamanya papara Sapu) untuk membongkar dan memebelah batu dan memuat ke truck dan sekelompok ibu-ibu masak. Sementara kelompok yang lain yang terdiri dari 20 – 30an orang bekerja menyusun batu dasar sekelompok lagi bertugas memecah batu menjadi ukuran 3-5 atau lebih kecil dengan mengunakan martil, dan sekelompok laki-laki yang lain bertugas mengangkut batu dari tempat penumpukan ke lokasi pekerjaan secara manual. Alhasil tepat seminggu jalan selebar 3 meter sepanjang 1 km dengan perkerasan batu dasar 20 – 30 Cm dan dalapisi batu percah 3/5 selesai dilaksanakan, dan kendaraan angkutan bahan tidak menemui kesulitan lagi untuk bekerja, dan gedung sekolahku selesai tepat waktu. Dua tahun setelah itu, yakni tahun 1978 jalan salili dilapisi aspal dengan menggunakan dana Bangdes. Desa Beong dan Lai juga tidak mau ketinggalan masing-masing masyarakatnya membangun jalan masuk dengan lebar 3 meter. Desa Lai membangun jalan hingga ke gereja Lai. Beong membangun dengan perkerasan aspal hingga ke gereja Maranatha Beong, dan merintis jalan hingga ke Dompas. Kampung salili menambah satu ruas lagi yaitu Tahoto Liwua Bowombitung dengan lebar jalan sama 3 meter (mini).
Hingga saat ini kurang lebih 30 puluh tahun berlalu, ruas jalan disalili sudah bertambah banyak Salili – Tuwa, Bowombitung – Tuwa, hanya sayangnya lebar jalan itu masih tetap tidak pernah bertambah sejengkalpun tidak, dan mobil yang masuk tetap seperti 30 tahun yang lalu yaitu ”untung-untungan seminggu ada yang masuk” kenapa ?????????
Ada beberapa hal yang menyebabkan tidak berkembangnya lalulintas pada suatu wilayah :
1. Terjadi ego wilayah kampung. Masyarakat salili hanya membangun jalan utuk salili, Masyarakat Beong hanya berfikir jalan untuk orang Beong, demikian juga kampung-kampung yang lain. Harus diingat bahwa lalulintas tidak mengenal batas kampung, lalulintas harus diberi ruang gerak yang lebih luas, apalagi Salili, Beong dan kanawong adalah sentra produksi pertanian, sehingga apabila ketiga kampung ini dihubungkan dengan suatu ruas jalan yang memadai lalulintasnya pasti akan berkembang dan hidup.
2. Jalan yang dibangun terlalu sempit (hanya 3 meter tanpa bahu jalan lagi), sehingga membawa dampak trauma bagi pengendara kendaraan roda 4 untuk masuk.
3. Tidak ada pengendalian pembangunan rumah masyarakat, sehingga menutup kemungkinan untuk dikembangkannya alur lalulintas yang lebih baik.